Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil Seorang Sosialis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil Seorang Sosialis. Tampilkan semua postingan

Gunakan Helm Saat Mengendarai Motor!

Saya itu orang yang sangat rewel soal helm. Jika saya mengendarai motor, sedekat apapun jaraknya, saya selalu menggunakan helm. Saya juga sering memaksa orang lain untuk ikut menggunakan helm jika mau saya bonceng. Bukannya apa-apa, tapi saya pernah punya pengalaman selamat dari kecelakaan fatal karena menggunakan helm.

Sayangnya, kebanyakan orang nggak pernah ngerti soal fungsi helm. Dengan berbagai alasan, mereka menolak menggunakannya. Heran, apa harus kecelakaan dulu biar sadar? Nah, dari yang saya perhatikan, ada dua alasan utama mengapa orang-orang sering menolak menggunakan helm (emang ada alasan ketiga sih, tapi nggak usah dipeduliin, cumaorang gila yang ngasih alasan kayak gitu).

Alasan pertama, jaraknya deket, atau masih di dalam lingkungan komplek. Ini alasan paling umum, dan banyak yang memakluminya, termasuk polisi. Salah satu contohnya sering saya lihat di komplek rumah calon istri saya. Di Taman Kopo Indah (nama kompleknya), polisi nggak pernah menilang orang-orang yang nggak pake helm. Nggak peduli sebanyak apapun polisi yang ada di sana (kantor polisinya emang di dalem komplek), orang-orang tetep aja cuek berkeliaran naik motor tanpa helm. Toh polisinya juga diem aja.

Alasan kedua, nggak ada polisi. Nah kalo yang ini jelas alasan goblok. Saya selalu menganggap orang yang nggak pake helm saat naik motor karena alasan ini adalah orang yang bermental koruptor. Taat aturan hanya saat ada yang memantau. Pas nggak ada lagi yang mantau, langsung dilanggar. Kata-kata saya terlalu kasar? Yah, memang. Tapi saya nggak peduli kok. Buat apa saya peduli kepada orang yang bahkan nggak memedulikan keselamatan dirinya sendiri?

Kawan, yang namanya kecelakaan itu nggak peduli jarak, waktu atau lokasi. Nggak peduli ada polisi atau nggak. Musibah (kecelakaan) itu urusan Tuhan. Kita nggak bakalan tau kapan dan di mana terjadinya. Meski harus diakui, helm nggak bakal berguna jika harus berhadapan dengan takdir Tuhan, tapi nggak ada salahnya kan jaga-jaga?

Sebagai penutup, mari kita bermain logika soal helm ini....

Premis 1: Helm berfungsi sebagai pelindung kepala...
Premis 2: Di dalam kepala ada otak...
Kesimpulan: Orang yg nggak menggunakan helm berarti nggak punya otak, karena mereka merasa nggak ada yang harus dilindungi...

Baca Selengkapnya...

Karakteristik Seseorang Saat Pemilu

Kartun Pemilu

Pengumuman hasil pemilu (mau pilwalkot, pilbup, pilgub, atau bahkan pilrw, whatever)...

Kalo calon yang didukungnya menang: "Yeah! Ini kemenangan rakyat! Rakyat udah pinter, nggak bakal bisa dibohongi!

Kalo calon yang didukungnya kalah: "Pasti ada kecurangan! Money politics! Siap-siap aja, kita bakal menderita dalam lima tahun ke depan!"

Ah... pemilu memang unik. Karakteristik seseorang bisa kita tebak dari reaksinya saat melihat hasil. Pendukung yang menang seringkali arogan, serasa dia yang paling benar.

Pendukung yang kalah seringkali ngamuk. Saking nggak nerimanya, dia sampe nuduh yang macem-macem. Di negeri ini, jarang sekali kita temukan pihak yang kalah menerima kekalahannya dengan lapang dada.

Lucunya pemilu di negeri ini....

Baca Selengkapnya...

Lembur

Dua orang pekerja di sebuah perusaan besar sedang bercakap-cakap. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul lima sore, saat bagi para pekerja pulang dari kantor. 

A: “Eh, lu mau langsung pulang? Nggak ikutan lembur?”

B: “Nggak ah. Gue males kalo harus pulang malem.”

A: “Males kenapa? Gue fine-fine aja tuh...”

B: “Gue kan nggak kuat kalo kena angin malem. Gue pasti demam kalo pulang malem-malem.”

A: “Kan tinggal pake jaket tebel ama minum obat antiangin aja, Bro. Sayang loh, duit lembur kan gede banget.”

B: “Gue tetep nggak mau. Mending nggak dapet banyak duit, daripada gue harus lembur, terus ujung-ujungnya sakit.”

A: “Mumpung masih muda, kita harus kerja keras, Bro. Nyari duit buat persediaan pas tua nanti. Sedikit ngorbanin kesehatan kan nggak terlalu masalah. Lebih baik kita bekerja sekeras mungkin di saat muda, biar nggak usah lagi bekerja keras di saat tua.”

B: “Ah... gue cuma nggak mau, saat muda ngorbanin kesehatan buat duit, terus pas tua malah ngabisin duit buat ngembaliin kesehatan yang udah dikorbanin pas masih muda.”

A: “...”

Baca Selengkapnya...

Buat Apa Punya Pacar, Kalau...

Di suatu siang yang panas...

Cewek: “Yang, jemput aku sekarang dong. Aku udah beres nih kuliahnya...”

Cowok: “Sorry, Yang. Kayaknya aku nggak bisa. Ini kerjaan masih numpuk. Mana deadline-nya bentar lagi....”

Cewek: “Ih, kamu tega aku pulang naek angkot? Gengsi dong!”

Cowok: “Ya ampun, naek angkot aja gengsi! Lagian jarak dari kampus ke rumah kamu kan deket. Naek angkot sepuluh menit juga nyampe. Itu jauh lebih cepet daripada nunggu aku ngejemput...”

Cewek: “Nggak peduli! Jemput sekarang juga, atau kita putus!”

Cowok: “Ah, ya udah! Dasar manja! Aku jemput sekarang! Ya ampun, cuma gara-gara masalah gini aja kamu mau putus?!”

Cewek: “Iyalah?! Buat apa punya cowok, kalo nggak bisa dijadiin tukang antar-jemput?!”
Cowok: 

Beberapa hari kemudian, ceritanya pasangan kekasih itu kencan. Sayangnya, saat perjalanan pulang, mobil Si Cowok mogok di jalan setelah mencoba menerobos banjir. Beberapa saat sebelumnya, daerah tersebut memang diguyur hujan yang sangat deras.

Cowok: “Yang, bantuin dorong mobil dong. Sambil didorong, aku mau nyoba nyalain. Kali aja bisa...”

Cewek: “Ih, kok aku? Minta tolong aja sama orang lain!”

Cowok: “Yah, kamu kan liat sendiri. Orang lain lagi sibuk sama kendaraannya masing-masing yang sama-sama mogok.”

Cewek: “Nggak mau ah!”

Cowok: “Kamu nyebelin amat sih? Pilih bantu dorong, atau kamu pulang naek angkot?!”

Cewek: “Jahat! Emang kamu tega liat aku ngedorong mobil pas banjir gini?”

Cowok: “Iyalah! Buat apa punya cewek, kalo nggak bisa dijadiin tukang dorong mobil saat mogok?!”
Cewek: 

Baca Selengkapnya...

Apa Susahnya Bilang Kampanye?

Pemilihan Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018 hanya tinggal menghitung bulan. Saat ini, berbagai spanduk, poster dan baliho sudah terpasang di berbagai tempat. Isinya tak jauh dari membangga-banggakan diri sendiri dan memasang tulisan berbau janji palsu seperti “Selamatkan Jawa Barat” atau semacamnya.

Banar-benar merusak pemandangan sebenarnya. Tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi, orang-orang Indonesia memang tidak kreatif soal kampanye. Dari zaman Orde Baru sampe sekarang, kampanyenya ya seperti itu saja: memajang wajah narsis di spanduk.

Selain dengan spanduk, salah satu cara kampanye yang paling umum adalah dengan roadshow ke berbagai daerah. Para calon pemimpin itu mendadak berlagak peduli pada rakyat, padahal intinya hanya satu: pencitraan.

Ada satu pernyataan lucu dari Irianto MS Syafiuddin (Kang Yance), calon Gubernur Jawa Barat yang diusung Partai Golkar terkait roadshow ke berbagai daerah ini. Pernyataannya itu adalah...:

“Saya suka nyeri badan jika tidak melakukan roadshow ke daerah-daerah...”

Suka nyeri badan jika tidak melakukan roadshow ke daerah-daerah? WTF?! Alasan macam apa itu? Kalo emang bener itu alasannya, dulu-dulu ke mana aja? Kenapa dulu-dulu nggak ada berita kalo ente nyeri badan gara-gara diem terus di kantor? Bilang kampanye aja susah amat, pake ngasih alasan konyol segala. Emangnya bakal ada yang percaya?

Seperti di bawah inikah kejadian di balik pernyataan tersebut?

Yance: “Dok, saya mau konsultasi dan periksa kondisi tubuh saya. Kenapa yah akhir-akhir ini badan saya sering sakit, pegal, nyeri?”
Dokter: “Oh, baiklah. Silakan duduk di atas ranjang, nanti saya periksa...”

Setelah diperiksa...

Dokter: “Pak Yance, setelah saya periksa, ternyata alasan kenapa badan Anda sering nyeri adalah karena Anda tidak pernah roadshow ke daerah-daerah...”
Yance: “Oh, begitu? Lalu, apa obatnya, Dok?”
Dokter: “Obatnya adalah Anda harus berkeliling Jawa Barat, terutama ke daerah-daerah yang belum terlalu mengenal nama Anda. Jangan lupa, Anda harus melakukannya tiga hari sekali, sesuai petunjuk saya selaku dokter!”

Oke, itu adalah percakapan yang absurd. Saya langsung terpikir, jangan-jangan itu nyeri badan bukan karena tidak melakukan roadshow, namun karena memang sudah dari sananya calon gubernur kita yang terhormat ini mengidap reumatik atau encok.

Satu hal yang aneh, kenapa dia bisa lolos tes kesehatan yah? Ah, tragis sekali warga Jawa Barat, harus punya calon pemimpin yang mengidap encok....


*Referensi: http://bandung.detik.com/read/2012/11/23/115020/2099245/486/yance-ngaku-badannya-sakit-jika-tidak-roadshow-ke-daerah

Baca Selengkapnya...

Mengapa Kamu Harus Bangga?

Orang Indonesia itu aneh, selalu saja bangga terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Bahkan, suatu musibah atau kecelakaan pun masih saja bisa dibangga-banggakan. Contohnya, beberapa hari yang lalu saya mendengar percakapan seperti ini dari dua anak SMA:

Anak SMA 1: “Wah, minggu depan gue harus operasi amandel nih. Sakit nggak yah?”
Anak SMA 2: “Ah, operasi amandel sih nggak ada apa-apanya. Pasti nggak bakalan sakit. Gue dulu malah pernah operasi gigi. Buset, gigi gue dibor!”
Saya (dalam hati): “Gigi elu dioperasi, dan elu malah bangga?”
Anak SMA 1: “Yeh, segitu aja bangga. Sodara gue malah pernah dioperasi usus buntu!”
Anak SMA 2: “Apalagi sodara gue, dulu dia harus dibedah gara-gara tulang kakinya patah!”
Saya (masih dalam hati): “Oke, sodara kena musibah ternyata bisa dijadikan sebuah kebanggaan...”


***

Sejujurnya, saya tidak tahu apakah kedua anak SMA itu berbicara sebenarnya, atau hanya sekadar membual. Namun, bagaimanapun, rasanya hal-hal semacam itu benar-benar tidak layak dijadikan sebuah kebanggaan. Saya jadi sempat berpikir, jangan-jangan percakapan seperti ini bisa saja terjadi:

A: “Eh, tau nggak, daerah gue kemarin diterjang banjir loh. Untung rumah gue nggak kena...”
B: “Ah, itu sih mending. Kemarin-kemarin di daerah gue malah ada longsor...”
A: “Yeee, belagu amat. Dulu daerah gue pernah diguncang gempa! Keren kan?!
B: “Daerah gue yang lebih keren! Pernah ada tsunami!”

Ah, semoga saja percakapan seperti ini tidak pernah terjadi, dan hanya ada di bayangan saya saja....

Baca Selengkapnya...

Status-Status Aneh

Bagi saya, perilaku para pengguna Facebook selalu lucu untuk diperhatikan. Nyaris tiap hari, perilaku-perilaku aneh mereka sering saya lihat terpampang jelas di News Feed. Contohnya, saya sering melihat kelakuan Facebook User yang menulis status seperti ini:

“Kamu itu sebenernya cinta ama aku nggak sih?”

Benar-benar status yang legendaris. Entah sudah berapa puluh kali saya melihat seseorang membuat status macam ini. Lalu, di mana letak kelucuannya? Ini saya anggap lucu, karena sejujurnya, hingga sekarang saya masih belum mengerti konsep status itu.

Dia bertanya seperti itu, berarti butuh jawaban kan? Masalahnya, kenapa nggak nanya langsung ke orangnya?! Dasar aneh. Jika memang menginginkan jawaban, bertanya langsung orang yang dituju jelas akan lebih efektif ketimbang ditulis di Faceboook.

Saya sudah sering memberi komentar ke status-status macam itu. Isi komentarnya, menyarankan agar si pembuat status langsung bertanya pada orang yang dituju. Namun, apa tanggapannya? Ini cuma status iseng? Dia sebenernya nggak niat bertanya seperti itu.

Nggak niat, tapi masih aja ditulis di Facebook? Oke, saya langsung yakin jika dia memang orang yang kurang kerjaan.

***

Selanjutnya, beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang menulis status seperti ini:

“Kalo nggak seneng ama gue, jangan cuma nyindir-nyindir lewat Facebook. Ngomong langsung!”

Status di atas malah lebih aneh lagi. Oke, dia mengecam seseorang karena hanya menyindir-nyindir lewat Facebook, bahkan menyuruh (orang yang menyindirnya) buat ngomong langsung. Pertanyaannya, elu nyuruh dia ngomong langsung, semantara elu sendiri ngomong lewat Facebook?! WTF! Intinya, siapa yang gila?

Namun, gelar status teraneh rasanya harus disematkan kepada status-status yang isinya doa, pertanyaan, atau bahkan keluhan terhadap Tuhan. Seperti ini:

“Ya Tuhan, kok jadi begini?” atau “Ya Tuhan, semoga saya bisa mengerjakan semua soal UAS hari ini...”

Lah, memangnya Tuhan bakal mengomentari status Facebook dia? Membalas doa dan pertanyaannya melalui Facebook? Beneran ngaco! Untuk status seperti itu, saya selalu memberi komentar begini:

“Facebook says: Maaf, saya bukan Tuhan. Jika memiliki harapan, atau bahkan keluhan, silakan beribadah sesuai kepercayaan kamu dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Jangan berdoa melalui saya...”

Baca Selengkapnya...

Smartphone With Idiot User

Ipul: “Liat nih, smartphone baru gue, iPhone 5! Mantap! Baru beli dari Singapura nih, harganya sepuluh juta! Denger nggak tuh? Sepuluh juta! Keren kan gue?”

Samsul: “Apaan, segitu aja bangga! Liat smartphone gue nih, Samsung Galaxy S3! Harga cuma enam jutaan, tapi speknya lebih bagus dari iPhone 5 punya elu!”

Ipul: “Yeee, bagusan smartphone gue dong. Harganya aja lebih mahal...”

Samsul: “Harga mahal nggak jadi jaminan, Bro!”

Ipul: “Tapi smartphone gue nggak gampang panas kayak punya elu!”

Samsul: “Meski gitu, smartphone gue nggak punya fitur iKletek kayak punya elu, yang kalo digoyang-goyang suka ada bunyi ‘kletek-kletek’. Harga semahal itu nggak termasuk baut yah?”

Ipul: “Ah, tapi dari uji coba ketahanan yang dilakukan para ahli, smartphone gue lebih tahan banting dari punya elu!”

Samsul: “Elu aja yang sarap. Ngapain juga smartphone dibanting-banting?!”

Ipul: “Alaaah... bilang aja, lu sirik kan? Lu kagak mampu beli barang semahal ini? Dasar miskin!”

Samsul: “Ngapain sirik? Gue juga tau, elu jual sawah bokap dulu kan buat beli itu barang mahal tapi rongsok?”

Ipul: “Sialan lu! Elu ngajak berantem? Ayo! Maju sini!”

Samsul: “Ayo! Siapa takut?!”

Mita: “Eh bentar... bentar! Stop! Jangan berkelahi!”

Samsul: “Jangan pisahin kita, Mit! Gue mau hajar orang banyak bacot kayak dia!”

Ipul: “Iya, Mit! Gue juga mau kasih pelajaran ama orang miskin ini!”

Mita: “Bukan gitu. Gue cuma mau nanya dulu... kalian pemilik Apple ama Samsung? Atau kerja di sana?”

Ipul: “Jelas bukan dong!”

Mita: “Berarti kalian dibayar buat promosiin produk-produk Apple ama Samsung?”

Samsul: “Nggak kok...”

Mita: “Kalo gitu, buat apa kalian ribut-ribut soal itu? Pake aja itu smartphone kalian, nggak usah banding-bandingin ama punya orang lain! Pemilik bukan, pekerja bukan, dibayar juga kagak! Dasar gila! Nggak ada kerjaan!”

Ipul & Samsul: “....”

***

Ah... saat ini memang zamannya smartphone with idiot user....


Baca Selengkapnya...

Antara Diari dan Jejaring Sosial

Dulu, sebuah ungkapan hati, perasaan galau dan semacamnya, jarang ada yang mengungkapkannya secara terang-terangan. Perasaan-perasaan itu memang bersifat privat, sehingga paling banter hanya diungkapkan melalui curahan hati kepada orang terdekat, atau hanya ditulis di dalam sebuah diari (catatan harian).

Ada yang dulu sering menulis di dalam diari? Kalo saya sih sering. Nah... yang namanya diari ini, biasanya bersifat rahasia. Si pemilik tidak akan memperbolehkan orang lain untuk membaca diari miliknya. Kalaupun ada yang diperbolehkan membacanya, pastilah memiliki hubungan spesial dengan si pemilik. Misal, sahabatnya.

Itu dulu. Bagaimana dengan sekarang? Zaman sekarang, posisi diari seakan tergantikan oleh kehadiran jejaring sosial, khususnya Facebook dan Twitter. Bedanya, jejaring sosial sama sekali tidak bersifat rahasia. Efeknya jelas, ungkapan hati, perasaan galau dan semacamnya justru diumbar kemana-mana. Semua orang bisa tahu, tanpa ada privasi sedikit pun.

Dulu, kita tidak bisa begitu saja membaca curhatan-curhatan di dalam diari seseorang, bahkan meski kita menginginkannya. Sedangkan sekarang, kita nyaris selalu membaca curhatan-curhatan di akun jejaring sosial seseorang, bahkan meski kita TIDAK menginginkannya.

Saya memiliki seorang teman perempuan di Facebook yang nyaris semua statusnya adalah curhat. Masalahnya, dia sangat sering update status! Akibatnya, curhatan-curhatan dia selalu muncul di newsfeed. Sialan. Ini contoh statusnya:

“BT, malam ini nggak jadi malmingan...” atau,
“Sayangku, kapan dateng ke rumah?” atau,
“Asiiik, tar sore bakal diapelin. Kencaaan...” atau,
“Kenapa sih kamu nggak pernah mau ngertiin aku? Padahal selama ini aku selalu mau ngertiin kamu! Pacaran tuh harusnya saling memahami, jangan egois! Nyebelin!”

Begitulah. Siapa yang nggak kesel jika hampir tiap hari membaca status macam itu? Anehnya, status-status macam itu selalu banyak penggemarnya. Jumlah like tiap statusnya selalu lebih dari sepuluh. Ah, saya jadi benar-benar berharap Facebook mau menyediakan tombol dislike...

Namun, kekesalan saya akhirnya malah berubah menjadi tawa geli, saat teman perempuan itu (yang juga teman saya di Facebook) mengomentari statusnya. Statusnya dalam Bahasa Sunda. Jika dalam Bahasa Indonesia, seperti ini kata-katanya:

“Ih, stres lu nggak ilang-ilang yah? Lu kan jomblo, ngapain coba hampir tiap jam bikin status mesra atau status galau yang isinya kayak lu punya pacar?”

Ahahahaha... bah, ternyata dia jomblo! Sarap! Tragis amat, bikin status-status kayak gitu cuma biar disangka punya pacar...


Baca Selengkapnya...

Wajib Bisa Bahasa Asing?

Ini adalah percakapan antara saya dengan seorang teman di Yahoo! Messenger, kemarin…

Teman: “Ki, nggak nonton Arsenal lawan Manchester City?”
Saya: “Nggak ah, males…”
Teman: “Loh, kenapa males? Padahal rame loh!”
Saya: “Males gara-gara sebel denger komentatornya.”
Teman: “Emang ada apa ama komentatornya? Lagian dia kan ngomong dalam Bahasa Inggris, emang kamu ngerti?”
Saya: “Justru itu, gue sebel dengernya gara-gara nggak ngerti itu komentator ngomong apaan!” 
Teman: “Lah…” 

***

Kenapa yah, beberapa perusahaan (khususnya perusahaan media) mensyaratkan kepada para pelamar agar memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang bagus? Ada yang memberi syarat nilai tes TOEFL-nya minimal 450, ada pula yang 500. Bahkan, saya pernah menemukan, sebuah stasiun TV member syarat kepada pelamarnya, minimal poin TOEFL-nya 550, atau poin IELTS 7. Whattafuck?! Emang sih, kemampuan bahasa asing itu diperlukan. Namun, itu kan bisa dilakukan sambil jalan. Kursus bahasa itu mahal, woy! Kerja aja belum, punya penghasilan aja nggak, udah disuruh buat nguasain bahasa asing (yang otomatis harus kursus dan tes, yang bakal ngeluarin biaya).  Lagian, emang nantinya setiap kegiatan wawancara dan liputan harus selalu menggunakan Bahasa Inggris? Kan nggak… 

Intinya, jangan bangga dengan bahasa asing. Mari kita cintai dan lestarikan bahasa ibu pertiwi kita, Bahasa Indonesia (ini cuma alesan aja sih gara-gara saya nggak bisa bahasa asing). 

Baca Selengkapnya...

Demonstrasi Demi Rakyat?

Rakyat 1: “Mau ke mana, bro?”

Pendemo: “Mau demo nih. Ikut?”

Rakyat 1: “Nggak ah. Nggak ada gunanya.”

Rakyat 2: “Iya, ngapain coba demo?”

Pendemo (marah): “Kok kalian gitu? Kita demo tuh buat kepentingan kalian! Karena kami peduli dengan nasib kalian!”

Rakyat 1: “Kalo emang buat kepentingan kami, kok malah anarkis? Emang kami pernah minta kalian buat bakar mobil polisi?”

Rakyat 2: “Kalo emang buat kepentingan kami, kenapa kalian malah bikin jalanan macet? Padahal bisa aja saat itu kami sedang ada di jalan dan dalam kondisi terburu-buru.”

Rakyat 1: “Kalo emang peduli kepada kami, kenapa kalian menghancurkan fasilitas umum yang dikasih oleh negara buat kami?”
Pendemo:

Baca Selengkapnya...

Perbedaan Inggris, Spanyol dan Indonesia

Inggris
Fabrice Muamba tiba-tiba terkapar di tengah lapangan saat timnya, Bolton Wanderers melawan Tottenham Hotspurs di ajang Piala FA. Menurut keterangan medis, Muamba mengalami serangan jantung. Para supporter Tottenham, yang notabene mendukung lawan main klub yang dibela Muamba, malah memberikan teriakan-teriakan dukungan padanya. Mereka memberi semangat pada Muamba. Berharap ia tidak apa-apa.

Spanyol
Pelatih Real Madrid, Jose Maurinho, berdoa atas kesembuhan Eric Abidal yang baru saja menjalani transplantasi hati. Ia berharap Abidal segera pulih dan bisa bermain sepakbola lagi. Padahal, Abidal adalah pemain Barcelona yang merupakan musuh bebuyutan Real Madrid.

Indonesia
XYZ, pemain Klub A, cidera di tengah pertandingan melawan Klub B. Ucapan supporter Klub B pada XYZ: “Mampus, lu! Semoga cidera seumur hidup!”
“Supporter idiot adalah supporter yang tak pernah siap kalah. Mereka juga lebih mementingkan harga diri ketimbang perdamaian dan rasa kemanusiaan.”
_Fikri_

Baca Selengkapnya...

Kenaikan Harga BBM? So What?

Kabarnya, 1 April nanti harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) bakalan naik. Keputusan pemerintah ini jelas saja menuai pro dan kontra. Ada yang setuju, namun lebih banyak yang menolak. Khusus untuk yang menolak, banyak di antara mereka yang melampiaskan penolakannya tersebut dengan melakukan berbagai aksi dan tindakan protes.

Di Jakarta, ada segilintir mahasiswa yang melakukan aksi penolakan kenaikan BBM dengan cara... menutup salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Sebuah tindakan idiot, mengingat penutupan tersebut tidak akan berpengaruh pada keputusan pemerintah, dan hanya akan berakibat pada kerugian bagi pemiliknya.

Saya akan memberikan sebuah perumpamaan. Misal, pemerintah memutuskan kenaikan pada harga kain dan benang. Hal ini tentu bakal berakibat pada kenaikan harga barang-barang tekstil seperti baju. Lalu, sebagai bentuk protes atas kenaikan tersebut, saya melakukan aksi demonstrasi dengan menutup... distribution outlet (distro), factory oultlet (fo) dan toko-toko baju lainnya. Nah, jika itu benar-benar terjadi, apa pendapat kalian? Pasti bakal banyak orang yang berpendapat, itu tindakan bodoh. Itulah maksud saya menyebut aksi penutupan SPBU yang saya sebut di atas sebagai tindakan idiot.

Di sebuah grup di Facebook, saya sempat berdebat dengan salah seorang yang tidak setuju dengan kenaikan BBM. Ini inti dari perdebatan tersebut:

Anti-Kenaikan BBM (AK BBM): “Pokoknya, kenaikan BBM hanya bakal bikin rakyat kecil makin menderita!”
Saya: “Loh, kenapa bisa gitu?”
AK BBM: “Iyalah. Rakyat bakal semakin kesulitan membeli kebutuhan hidupnya, karena kenaikan BBM ini memiliki efek domino, yakni menyebabkan harga-harga barang kebutuhan pokok juga ikut naik!”
Saya: “Terus, kok kamu yakin banget rakyat kecil bakal jadi nggak sanggup beli kebutuhannya?”
AK BBM: “Lu itu bego yah? Hari ini aja di saat BBM belum naik, banyak rakyat kecil yang menderita, apalagi kalo nanti harga BBM udah naik! Seorang pengamat pernah berkata, kenaikan BBM ini hanya akan memiskinkan rakyat!”
Saya: “Gue nggak bego kok. Cuma heran aja, kayaknya kamu seorang atheis yah?”
AK BBM: “Sialan! Lu ngajak ribut? Gue bukan atheis! Gue percaya akan keberadaan Tuhan!”
Saya: “Aneh yah? Kalo kamu percaya ama Tuhan, seharusnya kamu juga tau, kalo rezeki semua orang itu udah ada yang ngatur. Tuhan yang ngatur rezeki semua manusia, tanpa peduli manusia tersebut beriman pada-Nya atau pun tidak! Tapi, di sini, kamu bilang dengan kenaikan BBM, rakyat bakal makin menderita, seakan-akan Tuhan tidak pernah dan tidak akan memberi rezeki sedikit pun pada manusia!”
AK BBM (speechless kayaknya): “...”
Saya: “Protes sih boleh aja. Tapi jangan diikuti dengan pernyataan-pernyataan tolol yang nggak punya dasar! Apalagi kalo diikuti pula ama aksi-aksi idiot seperti penutupan SPBU!”
AK BBM: “Tapi, masa kita harus diem gitu aja?”
Saya: “Justru jangan diem! Kita harusnya usaha lebih keras dan lebih giat. Jangan lupa berdoa, biar Tuhan melapangkan rezeki-Nya, biar nanti kita bisa menghadapi kenaikan BBM. Tindakan itu jauh lebih bermanfaat ketimbang berkoar-koar dan protes nggak jelas, tapi kitanya nggak melakukan apa-apa untuk menghadapi kenaikan harga ini.

Baca Selengkapnya...

Renungan

Saya melihat seseorang membuang sampah di sebuah tempat. Padahal, di tempat tersebut jelas-jelas terpasang papan bertuliskan “Dilarang Membuang Sampah Di Sini”. Maka, saya simpulkan jika orang tersebut tidak bisa membaca.

Saya melihat seorang pemakai kendaraan bermotor menerobos traffic light, padahal saat itu jelas-jelas lampu sudah berubah menjadi merah. Maka, saya simpulkan jika orang tersebut buta warna.

Saya melihat sebuah mobil parkir di samping jalan, di bawah rambu dilarang parkir. Maka, saya simpulkan jika pemilik mobil tersebut sebenarnya tidak lulus tes pembuatan SIM.

Saya melihat seseorang yang dengan cueknya merokok di bus yang sedang penuh. Orang-orang yang duduk di sekitarnya sudah menunjukkan wajah yang tidak nyaman dan mengeluarkan bunyi batuk sebagai isyarat, namun ia tetap tidak peduli. Maka, saya simpulkan jika orang tersebut buta dan tuli.

Saya melihat seseorang yang sangat hobi melakukan kekerasan. Di saat ada masalah, ia selalu menyelesaikannya dengan otot. Maka, saya simpulkan jika orang tersebut tidak memiliki otak.

Saya melihat seseorang yang sangat hobi mengeluh di jejaring sosial. Maka, saya simpulkan jika orang tersebut tidak memiliki teman di dunia nyata.

Saya melihat seseorang yang terus menerus melakukan pencitraan pada dirinya. Maka, saya simpulkan jika orang tersebut sebenarnya memiliki kesalahan yang ingin disembunyikan.

Saya melihat seorang pengemis yang meminta-minta sedekah pada orang yang lewat di depannya. Padahal, usia pengemis tersebut belumlah terlalu tua. Maka, saya simpulkan jika ia sebenarnya adalah orang yang sangat pemalas.

Saya melihat para aktivis yang sedang berdemo, namun akhirnya mereka bubar setelah diberi uang oleh pihak yang didemo. Maka, saya simpulkan jika inilah wajah-wajah para koruptor di masa depan.

Saya melihat wajah saya di cermin. Maka, saya berkata pada pantulan diri saya di cermin tersebut: “Kebanyakan protes, lu!”

Baca Selengkapnya...

Korupsi

Kita pasti benci korupsi. Benar-benar benci, karena perilaku tersebut membuat negeri ini hancur. Hanya karena tindakan korupsi yang dilakukan segelintir orang, jutaan rakyat Indonesia harus menderita terkena getahnya. Namun, sebelum kita mencaci maki para koruptor itu, bagaimana kalau kita sedikit merenung: apakah kita benar-benar tidak pernah korupsi sekecil apa pun?

Korupsi, dalam pemahaman saya adalah penyalahgunaan wewenang dan perampasan hak milik orang lain. Korupsi biasanya muncul akibat ketidaksabaran, sehingga ingin mendapatkan suatu hal dengan cepat dan instan. Contohnya, kasus Gayus Tambunan beberapa waktu lalu. Saat itu, Gayus terbukti menggelapkan uang pajak. Dengan demikian, ia menyalahgunakan wewenangnya sebagai pegawai pajak. Ia juga merampas hak (uang) milik negara. Milik rakyat. Gayus melakukan korupsi karena ia tak mampu bersabar terhadap kondisi hidupnya. Ia ingin kaya, namun tak mau menunggu. Akibatnya, ia menempuh cara instan, yaitu dengan korupsi.

Kita, disadari atau pun tidak, sebenarnya pasti pernah melakukan korupsi. Menyalahgunakan wewenang dan merampas hak milik orang lain. Tidak percaya? Saya akan beri contoh:

Seorang pengendara sepeda motor terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Karena sedang terburu-buru, maka ia memutuskan untuk naik ke atas trotoar. Dengan menjalankan motornya di atas trotoar, setidaknya ia bisa sedikit terhindar dari kemacetan.

Trotoar berfungsi sebagai akses jalan bagi pejalan kaki. Saat seorang pengendara sepeda motor menaikkan kendaraannya ke atas trotoar, maka secara tak langsung ia bisa disebut sudah menyalahgunakan wewenang dan merampas hak milik para pejalan kaki. Pengendara motor ini tidak bisa bersabar menghadapi kemacetan, sehingga memilih cara instan dengan naik ke atas trotoar. Perilaku yang tak jauh berbeda dengan Gayus, yah? Contoh lain yang bisa disebut korupsi adalah penerobosan lampu merah, membuat SIM tembak, menyerobot antrean, dan banyak lagi.

Saya nggak bakal sok suci di sini. Saya akui, saya pun beberapa kali khilaf dengan menaikkan motor ke trotoar. Namun, saya hanya ingin mengimbau, mari kita sadari jika hal ini adalah sebuah kesalahan. Mari kita sama-sama belajar untuk menghindari perilaku yang merugikan orang lain ini.

Baca Selengkapnya...

Aksi Solidaritas, Haruskah?

Akhir tahun lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama sejumlah LSM peduli anak membuka posko pengumpulan seribu sandal bekas. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kriminalisasi yang dilakukan polisi terhadap seorang remaja di Palu, Sulawesi Tengah. Sang anak dituding mencuri sepasang sandal milik anggota Brimob setempat.

A: “Wah, ada aksi pengumpulan sandal. Kamu mau ikutan?”
B: “Ayo! Kita harus mendukung aksi menolak ketidakadilan!”

***

Kurang dari dua pekan kemudian, yakni pada awal Januari, aktivis Lembaga Perlindungan Anak (LPA) bersama Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Seto Mulyadi kembali mencanangkan aksi solidaritas. Kali ini bernama gerakan pengumpulan koin 1.000 rupiah. Aksi ini dilatarbelakangi oleh kasus seorang pelajar SMP swasta di Denpasar yang menjambret tas milik seorang ibu bernama Ni Kade Susilawati. Sialnya, ternyata isi tas tersebut hanya uang sebesar 1.000 rupiah. Banyak pihak, termasuk Seto Mulyadi, menganggap bukti kejahatan (barang yang dijambret) memiliki nominal yang terlalu kecil untuk dibawa ke ranah hukum.

A: “”Eh, sekarang ada lagi aksi solidaritas. Gerakan pengumpulan koin seceng. Ikutan yuks?”
B: “Nggak, ah...”
A: “Loh, kenapa?”
B: “Masalahnya, menurut gue alasan yang bilang nominal bukti kejahatannya terlalu kecil, itu sangat konyol. Itu kan karena dia emang lagi sial, jambret tas yang isinya cuma segitu. Kalo ternyata isinya 50 ribu, apa mau ada aksi pengumpulan duit goban? Kalo isinya ternyata emas batangan, apa mau ada aksi pengumpulan emas?”
A: “Iya juga sih...”
B: “Kasus ini beda dengan kasus pencurian sandal kemarin-kemarin. Di sini, ada kemungkinan barang yang mau dijambret nominalnya jadi sangat besar. Misal, tas itu ternyata berisi duit jutaan, karena si Ibu baru ngambil duit dari bank. Terus, itu duit mau dipake buat biaya sekolah anaknya.”
A: “Oh, iya bener...”
B: “Karena itulah, gue nggak mau ikut serta dalam aksi ini. Kalo hal kayak gini dianggap wajar, bisa-bisa kalo ada anak dibawah umur yang ngerampok duit jutaan, itu dianggap wajar juga.”

***

Lima pelajar di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), diduga terlibat aksi pencurian motor. Mereka yang masih duduk di bangku SMP hingga SMA di Samarinda itu, ditahan karena mencuri 13 unit motor. Di Tangerang, empat orang pemuda belasan tahun membunuh seorang siswi SMP hanya demi mendapatkan handphone miliknya.

A: “Eh, ada kasus baru yang melibatkan anak-anak. Lima orang pelajar SMP dan SMA mencuri 13 unit motor! Terus, ada juga anak belasan tahun yang membunuh demi HP!”
B: “Gile, parah! Eh, tapi kok KPAI nggak ngadain aksi solidaritas pengumpulan seribu motor ama seribu HP yah? Tumben...”
A: “Iya nih. KPAI pada ke mana yah? Kak Seto mana, Kak Seto?”

Baca Selengkapnya...

Mahalnya Biaya Renovasi Toilet...

Apa yang akan kamu lakukan jika punya uang sebesar seratus juta rupiah? Kalo saya, pasti bakal pakai uang itu buat beli kamera, bayar uang muka buat rumah (ceritanya biar punya rumah sendiri), dan buat biaya nikah.

Tapi sayang, saya sama sekali nggak punya uang sebesar itu. Entah butuh berapa lama saya harus menabung biar dapet uang segitu.

Nah, intinya, jelas jika uang seratus juta merupakan jumlah yang sangat besar. Banyak kebutuhan yang bisa kita penuhi dengan uang sebanyak itu. Pertanyaannya, apakah logis jika uang sebesar itu habis dipakai hanya untuk renovasi sebuah toilet?

Yah, biaya sebesar itulah yang digunakan oleh anggota hewan dewan kita yang terhormat untuk merenovasi toilet. Jumlah yang direnovasi sebanyak 20 toilet, dengan biaya masing-masing seratus juta. Totalnya, dua milyar. Wah, jumlah yang fantastis untuk ukuran renovasi toilet.

Okelah, mungkin renovasi tersebut memang sebuah kebutuhan. Renovasi tersebut pasti sangat mendesak. Namun, apakah biayanya harus sebesar itu? Emangnya itu pispot dibuat dari emas, sehingga harganya begitu mahal?

Terkait masalah besarnya biaya ini, saya jadi punya usul... silakan saja renovasi toilet tersebut dengan biaya dua milyar. Namun, setiap anggota dewan yang mau menggunakan toilet tersebut harus dikenai biaya seratus ribu sekali masuk. Setuju?

***

Entah mengapa, mendadak saya teringat status teman saya di Facebook beberapa minggu lalu. Kira-kira, seperti ini statusnya: "Horeee, akhirnya gue dibeliin Ninja ama bokap! 23 juta oy! Ini motor gue, mana motor lu?!" (heran, kenapa orang belagu kayak gini bisa ada di friendlist saya yah?).

Coba pemberitaan soal biaya renovasi toilet ini muncul sejak beberapa minggu lalu, jadi kan saya bisa komen tuh di status orang itu: "Punya motor yang harganya 23 juta aja udah belagu gitu. Harga motor lu jauh lebih murah ketimbang harga renovasi toilet, tau!"

Baca Selengkapnya...

Absurditas Nilai Mata Uang

Saya selalu bingung dan bertanya-tanya, kenapa selembar kertas (yang disebut uang) bisa memiliki nilai tukar yang berbeda-beda. Bahkan, nilai tukarnya ada yang sangat tinggi. Coba kita bandingkan uang kertas Rp1.000 dengan Rp100.000, atau uang $1 dengan $100. Apa persamaannya? Sama-sama kertas. Apakah uang kertas Rp100.000 dan $100 mengandung emas, sehingga nilainya lebih tinggi daripada yang lain? Saya rasa nggak. Lalu, mengapa nilainya bisa berbeda sangat jauh seperti itu?

Terus, mengapa pula uang $1 memiliki nilai tukar yang setara dengan uang sekitar Rp9.000? Emang, seistimewa apakah uang dari Negeri Paman Sam itu, sehingga nilai tukarnya jauh lebih tinggi dari mata uang kita? Ingat, baik dollar mau pun rupiah, itu sama-sama kertas!

Sekarang, coba kita bakar uang kertas Rp100.000 atau $100 tersebut (ada yang mau?) hingga hanya tersisa setengahnya. Lalu, bandingkan dengan uang Rp1.000. Mana yang lebih berharga? Secara logika, harusnya uang kertas Rp100.000 dan $100 (yang tersisa setengah) itu lebih berharga. Setengah dari kertas Rp100.000 dan $100 kan Rp50.000 dan $50. Namun, pada faktanya, mengapa justru malah uang Rp1.000 yang lebih berharga? Konyol.

Saya jadi ingat sebuah cerita yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Saya lupa judul bukunya dan detail ceritanya, tapi inti ceritanya seperti ini:

Pada sebuah perkumpulan yang diikuti 10 orang, ada orang (sebut saja A) yang menawarkan selembar uang Rp100.000 kepada yang lain.

A: “Ada yang mau uang ini nggak? Kalo mau, silakan angkat tangan.”

Ternyata, semua mengangkat tangannya. Mereka menginginkan uang Rp100.000 tersebut (iyalah, siapa yang nggak mau dikasih duit segitu secara cuma-cuma?).

A: “Wah, ternyata semuanya ingin dikasih uang ini. Karena uangnya hanya ada selembar, jadi biar adil, saya sobek saja jadi sepuluh bagian agar semua orang, termasuk saya, mendapatkan 1/10-nya. Berarti itu nilainya 10 ribu, kan?”

Uang itu pun disobek menjadi sepuluh bagian (sayang amat, coba sumbangin aja ke mahasiswa miskin yang lagi butuh duit buat ngurus skripsi kayak saya).

A: “Sekarang, siapa yang masih menginginkan uang ini lagi?”

Seperti yang sudah diduga, nggak ada lagi orang yang mengacungkan tangannya. Melihat respon itu, kemudian A mengambil sekeping logam emas (koin dinar) dari dalam sakunya dan menawarkanya lagi kepada orang-orang tersebut. Sekeping koin dinar itu seberat 4,25 gram emas 22 karat, jadi harganya sekitar 2,2 juta rupiah.

A: “Nah, kalo koin dinar ini, siapa yang mau? Silakan angkat tangan!”

Seperti sebelumnya, semua orang di sana mengangkat tangan.

A: “Baiklah, akan saya berikan. Namun, sebelumya saya akan merusak koin ini dulu.”

Lalu, A melipat-lipat koin itu dan menekuknya hingga tak berbentuk lagi. Tidak hanya itu, dia pun menginjak dan membakarnya dengan korek gas.

A: “Sekarang, siapa yang masih menginginkan koin ini? Silakan angkat tangan.”

Kali ini, semua orang tetap mengangkat tangan. Yah, wajar sih. Bagaimana pun, emas adalah emas. Sehancur apa pun bentuknya, harga emas tetaplah mahal. Bahkan, kalaupun koin itu dipecah menjadi sepuluh bagian, pasti tetap pada mengangkat tangan (saya juga rela kok meski cuma dapet 1/10 bagiannya).

Ini jelas berbeda dengan uang kertas yang jangankan disobek jadi sepuluh bagian, disobek jadi dua pun pasti banyak yang nolak (kecuali orang kepepet yang nyambung lagi tu duit pake selotip). Jadi, kenapa mata uang malah dibuat dari kertas (yang sejatinya tidak berharga), bukannya emas atau perak yang nilainya jelas?

***

Permasalahan pada uang kertas sebenarnya tidak hanya terletak pada nilainya yang nggak jelas, namun juga rawan kerusakan dan perusakan. Contohnya sering kita temui di Indonesia. Bahkan, bisa jadi ini ciri khas Indonesia yang tidak bisa ditemui di negara lain (setelah saya menanyakannya pada beberapa teman yang pernah tinggal di luar negeri). Ciri khas ini adalah:
  • Uangnya teramat sangat lecek. Saya nggak tau udah dipegang dan terkena keringat berapa juta orang. Pokoknya, itu jauh lebih lecek ketimbang wajah saya. Heran, ada aja orang yang masih mau pake duit sarang kuman itu.
  • Uangnya disambung oleh selotip. Nggak ada komentar buat uang jenis ini, saya sampe speechless. Yang pasti, tiap liat uang kayak gini, saya selalu inget ama sepatu saya yang juga pake selotip. Jadi, pertanyaannya, ini uang apa sepatu saya?
  • Uangnya dicorat-coret. Jenis coretannya bermacam-macam. Ada yang memberi coretan pada gambar pahlawannya, ada yang membuat tulisan gombal nggak banget macam ‘XYZ, Ai Lop Yu Pull!’ hingga pencantuman nomor HP (buat apa, coba? Kalo emang nggak laku, ya nggak usah sampe jual diri dengan nyantumin nomor HP di uang segala kali).

    Baca Selengkapnya...

    Damai itu Indah...

    Saya bosan dengan berbagai pertentangan dan kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama di negeri kita tercinta, Indonesia.

    Saya muak melihat banyaknya fenomena kekerasan yang berlatar belakang agama. Fenomena kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang sombong yang merasa paling suci dan paling mengerti tentang masalah agama. Orang-orang gila yang menganggap dirinya paling benar. Apakah hanya karena kita bilang A dan orang lain bilang B, maka kita berhak melakukan kekerasan pada orang-orang yang bilang B itu?

    Saya juga muak melihat para mahasiswa yang nyaris selalu terlibat kericuhan di tiap aksi demonstrasi yang mereka lakukan. Kritis sih kritis. Tapi apa harus berujung anarkis? Nggak, kan? Kalian tuh dianggap sebagai golongan eksklusif, yang mampu menuntut ilmu hingga jenjang tertinggi. Kalian tuh terpelajar. Tapi kok kelakuan kayak orang purba gitu?

    Saya: “Seandainya orang-orang memahami jika damai itu indah. Benar-benar indah.”
    Teman: “Kata siapa damai itu indah? Nggak semua loh, Ki. Buat para polisi, damai itu 20.000 rupiah. Kalo nggak mau ditilang, biaya damainya kan 20.000. Hehehe...”
    Saya: “Bisa aja lu. Tapi yah, seandainya damai emang benar-benar bisa dibeli cuma dengan 20.000, maka di dunia nggak bakal ada lagi kekerasan...”

    Baca Selengkapnya...